Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

12.14.2012

Menangis itu Sehat..

jangan ragu untuk menangis, Anda akan sehat Jasmani dan Ruhani..

"Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis," (an-Naml: 43)

Telah ditemukan hubungan yang kuat antara fungsi fisiologis dan psikologis terhadap luapan emosi seseorang pada umumnya serta perantara apa yang bisa dipakai untuk mengungkapkannya. Sama juga dengan cara menangis atau selainnya.


Telah jelas bahwa tangis itu menimbulkan tetesan air mata dan menghasilkan zat-zat yang ada di mata, membersihkan bola mata, serta mengurangi tekanan-tekanan hidup yang dihadapi. Sebagaimana telah jelas pula bahwa tangisan juga memberi pengaruh pada organ-organ tubuh yang lain, seperti urat nadi maupun saraf yang menjadi tegang di waktu seseorang emosi, begitu pula dengan meningkatnya denyutan jantung dan urat nadi serta menambah aliran adrenalin dari dua paru-paru.

Saat paling bahagia di dunia ini hadir ketika anda merendahkan diri dan tunduk, takut, menangis serta bertaubat dan memohon keampunan kepada Allah semata.

Ibnu Qoyyim dalam kitab al-Fawaid, “Celaka kamu, jangan engkau meremehkan dirimu. Seseorang yang bertaubat itu dicintai. Seseorang yang mengalah itu benar. Penyataan kerugiannya merupakan sumber kekayaan. Tunduknya kepalamu kerana penyesalan adalah keluhuran, dan mengakui kesalahan itu menunjukkan jalan yang benar untuk jiwa.”

Berhentilah sejenak, menjauh dari dunia dengan segala kecemasannya, kedudukan dan istana-istananya. Duduklah menyendiri, menyingkir dari para sahabat dan keluarga. Menyepilah dan tanyakan pada dirimu. “Untuk apakah aku hidup?? Apakah yang kuinginkan?? Dan apakah puncak dari semua itu??” Dan temukanlah jawapannya!!!

Hari-hariku berlalu tanpa Penyesalan

Tanpa tangisan, Rasa Takut, Ataupun rasa sedih

Betapa Mahabijaksana Allah, telah memberiku kesempatan

Padahal aku terus menerus bergelimang dosa

Akulah yang telah menutup pintu-pintu itu

karena kemaksiatan

Sedangkan mata Allah selalu melihatku

Biarkan aku meratapi dan menangisi diriku

Dan menempuh waktu dengan kesedihan

Biarkan aku terus mengucurkan air mata

Barangkali rasa sedih ini dapat melepaskan aku darinya.



Wahai Tuhanku,

aku hadapkan hatiku kepada-Mu sebelum kedua tanganku,

Aku memohon kepada-Mu dengan jiwaku sebelum terucap oleh lisanku

Hanya kepada-Mu aku meminta, mengadu, dan memohon

Aku memohon kepada-Mu, seperti permohonan orang yang berdosa

Permohonan anak yatim dan permohonan di waktu malam tiada bintang

Aku hadapkan hatiku kepada-Mu



Aku hamparkan kedua tanganku kepada-Mu,

Aku percaya mustajabnya doa dan tidak ada sesuatu pun

antara doaku dan Arsy-Mu, kecuali doa yang mustajab.

Aku berkata,"firman-Mu benar,berdoalah kepadaKu, nescaya

Aku ijabahi untuk kalian."



Aku memohon kepada-Mu, wahai Tuhanku dengan berkata,

Aku telah mencela dan memandang hina keluargaku

Aku singkiri orang-orang yang kucintai

Dalam kesendirianku, aku curahkan segala kesedihan dengan

darah

Aku terlantar dalam kesedihan yang berpanjangan

Aku tatap arah langit dengan penuh penderitaan

Dari resah dan gundah

Rabbi, betapa aku penuh kesalahan

Adakah waktu menghadap-Mu untuk bertaubat

Telah hilang kesempatan dari kehidupanku yang pertama

Sementara akan datang kehidupan kedua setelah kematian



Rabbi,

Aku telah mengakui dosaku

Di lubuk hatiku aku tangisi semua perbuatan dosaku

Aku terhina kerana dosaku,

Adakah setitis

Curahan rahmat-Mu yang mendekat padaku

Rabbi, aku telah datang kepada-Mu dengan bertaubat

Maka terimalah hamba-Mu yang mengharapkan belas kasih

Dalam kebingungan

Hanya air mata ini yang aku miliki

Sebagai tanda penyesalanku pada rendahnya diriku


Rabbi,

jika engkau menghukukmku kerana dosa-dosaku

Itulah balasan yang tepat bagi pendurhaka

Jika Engkau memberi ampun...Engkau telah memberi ampun

kepada seorang hamba yang penuh dosa

Dan Engkau memberi rahmat pada seorang insan yang berada

dalam ketidaktahuan

Si Abid (Ahli Ibadah yang merasa paling suci)

Pada suatu ketika Umar bin Khathab bercerita:
"Pada zaman dahulu ada seorang Abid (ahli ibadah) yang selalu memaksakan diri dalam beribadah. Dia merasa dirinya paling suci, sedangkan orang lain dinilai bersimbah dosa lantaran maksiat yang mereka lakukan.
Dalam hatinya selalu tertanam perasaan:
"Rahmat Allah hanya akan dicurahkan kepada orang ahli ibadah, bukan kepada pelaku maksiat."

Perasaan itu membuat si Abid meninggalkan pergaulan umum, mengisolasi diri dalam peribadatan. Tidak lagi mengenal silaturrahim.

Ketika di Abid sudah berada di akhirat, dia mengajukan pertanyaan kepada Allah: "Ya Allah, apakah yang Engkau berikan kepadaku sebagai balasan ibadahku sewaktu didunia?"

Jawab Allah: "Balasan buatmu adalah siksa neraka."
Dengan terperanjat si Abid meminta penjelasan: "Ya Allah, terus apa arti ibadah yang telah aku lakukan?"

Jawab Allah: "Sebab sewaktu di dunia kamu telah memutuskan silaturrahim, yang berarti telah memutuskan rahmat-Ku. Kamu tidak peduli dengan orang-orang yang berada di sekitarmu, dan kamu sombong dengan ibadahmu. Karena itu, pada hari ini Aku putuskan pula rahmat-Ku kepadamu, sehingga siksa neraka yang paling pantas menjadi imbalan ibadahmu sewaktu di dunia."

AYAT AL QUR’AN TELAH MEMBEBASKAN SEORANG PEMBANTU

Suatu hari ada seorang pembantu yang tidak sengaja menumpahkan air ke tangan majikannya sehingga membuat terganggu dan marah, serta merta pembantunya berucap,
 “Orang – orang yang menahan amarahnya” (Ali Imran : 134).

Sang majikan berkata, “Aku menahan amarahku”.

Pembantu itu menjawab,
“Dan memaafkan (kesalahan) orang” (Al – Imran : 134).
 Sang majikan berkata,”Aku maafkan engkau”.
 Pembantu itu berucap,
 “Dan Allah menyukai orang – orang yang berbuat kebajikan”. (Ali Imran : 134).
Sang majikan berkata,”Aku bebaskan engkau karena Allah”.


“ (yaitu) orang – orang yang menafkahkan hartanya baik diwaktu lapang maupun sempit dan orang – orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai orang – orang yang berbuat kebajikan “ (Ali Imran : 134).


Sumber : Al Qur’an dan terjemahannya Departemen Agama RI
Kisah – Kisah yang Menggetarkan Hati

3.31.2012

Menangis itu Sehat.


jangan ragu untuk menangis, Anda akan sehat Jasmani dan Ruhani..

"Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis," (an-Naml: 43)

Telah ditemukan hubungan yang kuat antara fungsi fisiologis dan psikologis terhadap luapan emosi seseorang pada umumnya serta perantara apa yang bisa dipakai untuk mengungkapkannya. Sama juga dengan cara menangis atau selainnya.

Telah jelas bahwa tangis itu menimbulkan tetesan air mata dan menghasilkan zat-zat yang ada di mata, membersihkan bola mata, serta mengurangi tekanan-tekanan hidup yang dihadapi. Sebagaimana telah jelas pula bahwa tangisan juga memberi pengaruh pada organ-organ tubuh yang lain, seperti urat nadi maupun saraf yang menjadi tegang di waktu seseorang emosi, begitu pula dengan meningkatnya denyutan jantung dan urat nadi serta menambah aliran adrenalin dari dua paru-paru.

Saat paling bahagia di dunia ini hadir ketika anda merendahkan diri dan tunduk, takut, menangis serta bertaubat dan memohon keampunan kepada Allah semata.

Ibnu Qoyyim dalam kitab al-Fawaid, “Celaka kamu, jangan engkau meremehkan dirimu. Seseorang yang bertaubat itu dicintai. Seseorang yang mengalah itu benar. Penyataan kerugiannya merupakan sumber kekayaan. Tunduknya kepalamu kerana penyesalan adalah keluhuran, dan mengakui kesalahan itu menunjukkan jalan yang benar untuk jiwa.”

Berhentilah sejenak, menjauh dari dunia dengan segala kecemasannya, kedudukan dan istana-istananya. Duduklah menyendiri, menyingkir dari para sahabat dan keluarga. Menyepilah dan tanyakan pada dirimu. “Untuk apakah aku hidup?? Apakah yang kuinginkan?? Dan apakah puncak dari semua itu??” Dan temukanlah jawapannya!!!

Hari-hariku berlalu tanpa Penyesalan

Tanpa tangisan, Rasa Takut, Ataupun rasa sedih

Betapa Mahabijaksana Allah, telah memberiku kesempatan

Padahal aku terus menerus bergelimang dosa

Akulah yang telah menutup pintu-pintu itu

karena kemaksiatan

Sedangkan mata Allah selalu melihatku

Biarkan aku meratapi dan menangisi diriku

Dan menempuh waktu dengan kesedihan

Biarkan aku terus mengucurkan air mata

Barangkali rasa sedih ini dapat melepaskan aku darinya.

Wahai Tuhanku,

aku hadapkan hatiku kepada-Mu sebelum kedua tanganku,

Aku memohon kepada-Mu dengan jiwaku sebelum terucap oleh lisanku

Hanya kepada-Mu aku meminta, mengadu, dan memohon

Aku memohon kepada-Mu, seperti permohonan orang yang berdosa

Permohonan anak yatim dan permohonan di waktu malam tiada bintang

Aku hadapkan hatiku kepada-Mu

Aku hamparkan kedua tanganku kepada-Mu,

Aku percaya mustajabnya doa dan tidak ada sesuatu pun

antara doaku dan Arsy-Mu, kecuali doa yang mustajab.

Aku berkata,"firman-Mu benar,berdoalah kepadaKu, nescaya

Aku ijabahi untuk kalian."

Aku memohon kepada-Mu, wahai Tuhanku dengan berkata,

Aku telah mencela dan memandang hina keluargaku

Aku singkiri orang-orang yang kucintai

Dalam kesendirianku, aku curahkan segala kesedihan dengan

darah

Aku terlantar dalam kesedihan yang berpanjangan

Aku tatap arah langit dengan penuh penderitaan

Dari resah dan gundah

Rabbi, betapa aku penuh kesalahan

Adakah waktu menghadap-Mu untuk bertaubat

Telah hilang kesempatan dari kehidupanku yang pertama

Sementara akan datang kehidupan kedua setelah kematian

Rabbi,

Aku telah mengakui dosaku

Di lubuk hatiku aku tangisi semua perbuatan dosaku

Aku terhina kerana dosaku,

Adakah setitis

Curahan rahmat-Mu yang mendekat padaku

Rabbi, aku telah datang kepada-Mu dengan bertaubat

Maka terimalah hamba-Mu yang mengharapkan belas kasih

Dalam kebingungan

Hanya air mata ini yang aku miliki

Sebagai tanda penyesalanku pada rendahnya diriku

Rabbi,

jika engkau menghukukmku kerana dosa-dosaku

Itulah balasan yang tepat bagi pendurhaka

Jika Engkau memberi ampun...Engkau telah memberi ampun

kepada seorang hamba yang penuh dosa

Dan Engkau memberi rahmat pada seorang insan yang berada

dalam ketidaktahuan

PUTING BELIUNG



Gambar 1. Kejadian angin puting beliung (tornado skala kecil)

Pengertian

Puting beliung sama dengan tornado skala kecil. Akan tetapi tornado seperti yang biasa kita lihat di tv di luar negeri tak pernah terjadi di Indonesia. Menurut pengertian meteorologi tornado adalah kolom udara yang berputar kencang dengan membentuk hubungan antara awan Cumulonimbus atau kejadian langka dari dasar awan Cumulus dengan permukaan tanah.

Gambar 2. Contoh akibat kejadian tornado di AS yang menimbulkan kerusakan yang hebat


Puting beliung di Indonesia adalah tornado dalam skala F0-F1 pada skala Fujita, yang memiliki daya rusak rendah dibandingkan di wilayah lintang tinggi dimana memiliki daya rusak terparah hingga skala F5. Puting beliung umumnya terjadi pada masa pancaroba dan musim hujan, dengan waktu kejadian antara siang hingga malam hari. Kondisi ini dikarenakan sinar matahari sebagai bahan bakar utamanya, secara maksimal diperoleh pada periode (frekuensi bulanan yang berkaitan dengan musim) dan waktu (frekuensi harian) tersebut.

Gambar 3. Skala kerusakan tornado menurut Fujita

Puting beliung biasa terjadi pada :a. Pancaraoba baik dari hujan ke kemarau maupun sebaliknya;
b. Musim penghujan dengan kriteria sebagai berikut :
  • 1-2 atau lebih kondisi cuacanya clear atau panas, biasanya hujan terjadi pada hari berikutnya akan lebat disertai petir dan angin kencang.
  • Biasanya pada pagi hari cerah dan berawan, maka pada sore harinya berpeluang terjadi angin kencang/puting beliung.
Sifat angin puting beliung:
  • Tidak bisa diprediksi secara spesifik hanya peluang dalam batasan wilayah, setelah melihat atau merasakan tanda-tandanya baru bisa diprediksi 0.5-1 jam sebelumnya dengan tingkat keakuratan kurang dari 50%.
  • Angin puting beliung hanya berasal dari awan Cumulonimbus (Cb), bukan dari pergerakan angin monsun atau pergerakan angin pada umumnya, sehingga dapat berpindah/bergeser sesuai dengan tekanan tinggi ke tekanan rendah dalam skala luas.
  • Tidak semua jenis awan Cb menimbulkan kejadian puting beliung, karena sangat mikro maka sangat sulit membedakannya, secara teori puting beliung dari awan Cb bersel tunggal, super sel dan multisel, kesemuanya hanya dapat dilihat di lapangan terbuka bukan dari teori monsun atau siklon atau pula model cuaca.
  • Suatu daerah yang terlanda puting beliung maka kecil kemungkinannya terjadi kedua kali, atau tak ada puting beliung susulan karena berasal dari awan Cb yang sifat tumbuhnya tergantung dari intensitas konvektif yang juga sulit diprakirakan.
  • Sangat lokal.
  • Bergerak secara garis lurus.
  • Waktunya singkat sekitar 3 menit dan tiba-tiba.
  • Terjadinya pada siang atau sore hari.
  • Malam jarang terjadi.
  • Puting beliung sulit diprediksi, namun tanda-tandanya dapat diketahui di luar rumah.
  • Terjadi pada tanah lapang yang vegetasinya kurang.
  • Jarang terjadi pada daerah perbukitan atau hutan lebat.
Gambar 4. Sejumlah bocah bermain disekitar kubah Masjid Hidayatusolikin di Desa Aluh aluh Besar, Kecamatan Aluh Aluh, Kabupaten Banjar, Kalsel, yang terjatuh akibat disapu angin puting beliung, Rabu (18/2). (dokumen dari Metro Banjar). Kabupaten Banjar didominasi daerah tanah lapang dengan vegetasi yang kurang rawan kejadian puting beliung.

Tanda-tanda datangnya angin puting beliung:
  • Satu hari sebelumnya udara pada malam hari sampai pagi hari udaranya panas/pengap.
  • Sekitar jam 10.00 terlihat tumbuh awan cumulus (awan berlapis-lapis), di antara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi seperti bunga kol.


Gambar 5. Awan Cumulus
  • Tahap berikutnya adalah awan tersebut akan berubah warna menjadi hitam gelap.
Gambar 6. Awan menjadi gelap

  • Perhatikan pepohonan di sekitar anda berdiri apakah ada dahan atau ranting yang sudah bergoyang cepat, jika ada hujan dan angin kencang sudah akan datang.
  • Terasa ada sentuhan udara dingin di sekitar tempat kita berdiri.
  • Terdengar sambaran petir yang cukup keras, apabila indikator itu dirasakan oleh kita, maka ada kemungkinan hujan lebat, petir dan angin kencang akan terjadi.
  • Jika 1 atau 3 hari berturut-turut tak ada hujan pada musim penghujan, maka ada kemungkinan hujan deras yang pertama kali turun diikuti angin kencang baik yang masuk dalam katagori puting-beliung ataupun tidak.
Daerah Kalimantan Selatan diprakirakan akan memasuki musim kemarau di sebelah barat pegunungan Meratus (Tabalong, Balangan, HSU, HST, HSS, Tapin, Banjarmain, Banjarbaru, Banjar, Barito Kuala) pada sekitar bulan Mei pada dasarian I sampai dasarian III. Sedangkan di bagian timur (Kotabaru dan Tanah Bumbu) pada bulan Juni dasarian I sampai Juli dasarian II dan Tanah Laut pada Mei dasarian II sampai Juni dasarian II

Jadi sekarang kita menuju ke musim pancaroba, perlu berhati-hati dan siaga pada kemungkinan bencana ini.

Tinjauan Islam terhadap angin kencang

Doa apabila ada angin kencang

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ
وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ
"Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, dan kebaikan yang ada padanya dan kebaikan apa yang dibawanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang ada padanya, dan kejelekan apa yang dibawanya." (H.R. Muslim).

Aisyah r.ha berkata, "Apabila terjadi awan hitam dan angin kencang, wajah Nabi saw yang biasa memancarkan nur, akan terlihat pucat karena takut kepada Allah. Beliau keluar-masuk mesjid dalam keadaan gelisah sambil terus menerus membaca doa :
"Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada-Mu kebaikan angin ini dan kebaikan yang berada di dalamnya, dan kebaikan yang Engkau kirim dengannya. Dan saya berlindung kepada-Mu dari kejahatan angin ini dan kejahatan yang berada di dalamnya dan kejahatan yang Engkau kirim dengannya."

Aisyah r.ha bercerita lagi: Apabila hujan mulai turun, maka wajah Rasulullah saw akan menjadi tidak ceria. Aku bertanya kepada beliau. "Ya Rasulullah, apabila terjadi awan mendung semua orang merasa gembira karena menandakan hujan akan turun, tetapi mengapa engkau justru terlihat ketakutan?" Rasulullah saw menjawab, "Wahai Aisyah, bagaimana aku dapat meyakini bahwa angin kencang dan awan mendung itu akan mendatangkan azab Allah? Kaum 'Ad telah dibinasakan oleh angin topan. Ketika mereka melihat awan menndung, mereka merasa gembira karena mengira akan segera turun hujan. Padahal bukan hujan yang turun, melainkan azab Allah untuk membinasakan mereka.

Allah SWT berfirman :


24. Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: "Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami". (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih,
25. yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa (Q. S Al Ahqaaf: 24-25).

AYAT AL QUR’AN TELAH MEMBEBASKAN SEORANG PEMBANTU

Suatu hari ada seorang pembantu yang tidak sengaja menumpahkan air ke tangan majikannya sehingga membuat terganggu dan marah, serta merta pembantunya berucap, “Orang – orang yang menahan amarahnya” (Ali Imran : 134).

Sang majikan berkata, “Aku menahan amarahku”.

Pembantu itu menjawab, “Dan memaafkan (kesalahan) orang” (Al – Imran : 134). Sang majikan berkata,”Aku maafkan engkau”. Pembantu itu berucap, “Dan Allah menyukai orang – orang yang berbuat kebajikan”. (Ali Imran : 134). Sang majikan berkata,”Aku bebaskan engkau karena Allah”.


“ (yaitu) orang – orang yang menafkahkan hartanya baik diwaktu lapang maupun sempit dan orang – orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai orang – orang yang berbuat kebajikan “ (Ali Imran : 134).


Sumber : Al Qur’an dan terjemahannya Departemen Agama RI
Kisah – Kisah yang Menggetarkan Hati

Si Abid (Ahli Ibadah yang merasa paling suci)

Pada suatu ketika Umar bin Khathab bercerita: "Pada zaman dahulu ada seorang Abid (ahli ibadah) yang selalu memaksakan diri dalam beribadah. Dia merasa dirinya paling suci, sedangkan orang lain dinilai bersimbah dosa lantaran maksiat yang mereka lakukan. Dalam hatinya selalu tertanam perasaan: "Rahmat Allah hanya akan dicurahkan kepada orang ahli ibadah, bukan kepada pelaku maksiat."


Perasaan itu membuat si Abid meninggalkan pergaulan umum, mengisolasi diri dalam peribadatan. Tidak lagi mengenal silaturrahim.


Ketika di Abid sudah berada di akhirat, dia mengajukan pertanyaan kepada Allah: "Ya Allah, apakah yang Engkau berikan kepadaku sebagai balasan ibadahku sewaktu didunia?"


Jawab Allah: "Balasan buatmu adalah siksa neraka." Dengan terperanjat si Abid meminta penjelasan: "Ya Allah, terus apa arti ibadah yang telah aku lakukan?"


Jawab Allah: "Sebab sewaktu di dunia kamu telah memutuskan silaturrahim, yang berarti telah memutuskan rahmat-Ku. Kamu tidak peduli dengan orang-orang yang berada di sekitarmu, dan kamu sombong dengan ibadahmu. Karena itu, pada hari ini Aku putuskan pula rahmat-Ku kepadamu, sehingga siksa neraka yang paling pantas menjadi imbalan ibadahmu sewaktu di dunia."

3.11.2012

Kategori Bid'ah Dan Bahayanya


Peringatan Maulid Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam Menurut Syari'at Islam

Kamis, 3 Desember 2009 16:07:04 WIB

Peringatan Maulid Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah bid’ah yang mungkar. Kelompok yang pertama kali mengadakannya adalah Bani ‘Ubaid al-Qaddah yang menamakan diri mereka dengan kelompok Fathimiyah pada abad ke- 4 Hijriyah. Mereka menisbatkan diri kepada putra ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'anhu. Padahal mereka adalah pencetus aliran kebatinan. Nenek moyang mereka adalah Ibnu Dishan yang dikenal dengan al-Qaddah, salah seorang pendiri aliran Bathiniyah di Irak. Para ulama ummat, para pemimpin, dan para pembesarnya bersaksi bahwa mereka adalah orang-orang munafik zindiq, yang menampakkan Islam dan menyembunyikan kekafiran. Bila ada orang yang bersaksi bahwa mereka orang-orang beriman, berarti dia bersaksi atas sesuatu yang tidak diketahuinya, karena tidak ada sesuatu pun yang menunjukkan keimanan mereka, sebaliknya banyak hal yang menunjukkan atas kemunafikan dan kezindikan mereka. Mencintai Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bukanlah dengan menyelenggarakan acara-acara perayaan maulid semacam itu, akan tetapi dengan mentaati perintahnya, membenarkan semua yang dikabarkannya, menjauhi segala yang dilarang dan diperingatkannya, dan tidak beribadah kepada Allah Azza wa Jalla kecuali dengan yang beliau syari’atkan.

Akhir Kesudahan Ahli Bid'ah

Minggu, 18 Nopember 2007 04:33:35 WIB

Pelaku bid’ah diharamkan dari minum seteguk air yang nikmat dari tangannya Nabi Sallallahu 'alaihi wasallam dan dari telaganya yang mana telaga itu lebih putih dari salju dan lebih manis daripada madu. Maka sungguh telah benar dari hadits Anas Radhiyallahu 'anhu ia berkata : Rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam bersabda : " Benar-benar suatu kaum dari umatku akan ditolak dari telaga sebagaimana unta asing ditolak (dari kerumunan unta)”, maka aku berkata : “Ya Allah itu adalah umatku”, maka dikatakan : “Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu”. Maka demikianlah kesudahan akhir ahli bid’ah baik pada masa lampau atau masa sekarang, (Semoga Allah melindungi kita dari akhir kematiaan buruk seperti mereka). Maka apakah sadar mereka para ahli bid’ah pada setiap zaman dan tempat pada buruknya tempat kembali mereka?

Antara Adat Dan Ibadah

Selasa, 5 Juni 2007 01:17:04 WIB

Ini adalah sub kajian yang sangat penting yang membantah anggapan orang yang dangkal akal dan ilmunya, jika bid’ah atau ibadah yang mereka buat diingkari dan dikritik, sedang mereka mengira melakukan kebaikan, maka mereka menjawab : “Demikian ini bid’ah ! Kalau begitu, mobil bid’ah, listrik bid’ah, dan jam bid’ah!” Sebagian orang yang memperoleh sedikit dari ilmu fiqih terkadang merasa lebih pandai daripada ulama Ahli Sunnah dan orang-orang yang mengikuti As-Sunnah dengan mengatakan kepada mereka sebagai pengingkaran atas teguran mereka yang mengatakan bahwa amal yang baru yang dia lakukan itu bid’ah seraya dia menyatakan bahwa “asal segala sesuatu adalah diperbolehkan”. Ungkapan seperti itu tidak keluar dari mereka melainkan karena kebodohannya tentang kaidah pembedaan antara adat dan ibadah.

Bid'ah Dan Niat Baik

Senin, 4 Juni 2007 01:24:37 WIB

Ketika sebagian orang melakukan bid’ah, mereka beralasan bahwa amal mereka dilakukan dengan niat yang baik, tidak bertujuan melawan syari’at, tidak mempunyai pikiran untuk mengoreksi agama, dan tidak terbersit dalam hati untuk melakukan bid’ah ! Bahkan sebagian mereka berdalil dengan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Sesungguhnya segala amal tergantung pada niat” . Untuk membentangkan sejauh mana tingkat kebenaran cara mereka menyimpulkan dalil dan beberapa alasan yang mereka kemukakan tersebut, kami kemukakan bahwa kewajiban seorang muslim yang ingin mengetahui kebenaran yang sampai kepadanya serta hendak mengamalkannya adalah tidak boleh menggunakan sebagian dalil hadits dengan meninggalkan sebagian yang lain. Tetapi yang wajib dia lakukan adalah memperhatiakn semua dalil secara umum hingga hukumnya lebih dekat kepada kebenaran dan jauh dari kesalahan. Demikianlah yang harus dilakukan bila dia termasuk orang yang mempunyai keahlian dalam menyimpulkan dalil.

Setiap Kesesatan Di Neraka

Minggu, 3 Juni 2007 14:51:38 WIB

Ungkapan yang pasti benarnya yang disampaikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut terasa musykil dalam benak banyak orang jika mereka dihadapkan kepadanya ketika membuat atau melakukan bid’ah. Dimana seseorang menjawab dengan rasa tidak senang : “Apakah karena bid’ah yang kecil ini saya di neraka?” Untuk menjelaskan masalah ini dan jawaban terhadap kemusykilan tersebut dapat kita cermati dari dua hal sebagai berikut. Pertama : Sesungguhnya di antara akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah, ”Kita tidak menempatkan seseorang dari ahli kiblat tentang surga atau neraka”. Kedua : Bahwa Ibnu Taimiyah dalam Fatawanya (IV/484) berkata : “Karena nash-nash ancaman bentuknya umum, maka kita tidak menyatakan dengannya kepada orang tertentu bahwa dia termasuk penghuni neraka.

Sebab-Sebab Bid'ah

Sabtu, 2 Juni 2007 06:58:18 WIB

Sesungguhnya bentuk kesalahan yang menyebabkan munculnya bid’ah adalah karena kebodohan tentang Sunnah, posisi qiyas dan tingkatannya, juga tentang gaya bahasa Arab. Kebodohan terhadap hadits mencakup kebodohan tentang hadits-hadits shahih dan kebodohan menggunakan hadits-hadits dalam penentuan hukum Islam. Dimana yang pertama berimplikasi kepada hilangnya hukum, padahal dasar hukumnya adalah hadits shahih, sedang yang kedua berdampak pada tidak dipakainya hadits-hadits shahih dan tidak berpedoman kepadanya, bahkan digantikan posisinya dengan argumen-argumen yang tidak dibenarkan dalam syari’at. Sedangkan kebodohan terhadap qiyas dalam penentuan hukum Islam adalah yang menjadikan ulama fikih generasi khalaf yang menetapkan qiyas dalam masalah-masalah ibadah dan menetapkannya dalam agama terhadap apa yang tidak terdapat dalam hadits dan amal, padahal banyaknya kebutuhan untuk mengamalkannya dan tidak ada yang menghalanginya.

Kategori Bid'ah Dan Bahayanya

Antara Bid'ah Dan Ahlu Bid'ah

Minggu, 20 Agustus 2006 14:54:49 WIB

Setiap yang memahami kajian yang lalu, ia mesti mengetahui dengan jelas perbedaan antar perkataan kami tentang suatu masalah yang baru, yaitu “ Ini Bid’ah”, dan hukum kami kepada perlakunya bahwa dia “Ahlu Bid’ah”! Sebab hukum atas amal yang baru bahwa dia sebagai bid’ah, adalah hukum yang berlaku sesuai kaidah-kaidah ilmiah dan ketentuan-ketentuan ilmu ushul, yang dari mempelajari dan mengaplikasikannya muncul hukum tersebut dengan jelas dan nyata. Adapun pelaku bid’ah tersebut maka boleh jadi dia seorang mujtahid sebagaimana telah disebutkan. Maka ijtihad seperti ini meskipun salah tidak dapat dikatakan pelakunya itu sebagai ahli bid’ah. Dan boleh jadi pelaku bid’ah itu orang yang bodoh maka dinafikan darinya –karena kebodohannya- cap sebagai ahlu bid’ah, namun dia berdosa karena melalaikannya mencari ilmu, kecuali jika Allah berkehendak. Boleh jadi juga terdapat kendala-kendala yang menghalangi orang yang jatuh kepada bid’ah sebagai ahlu bid’ah.

Cara Ahlul Bid'ah Beragumentasi

Sabtu, 19 Agustus 2006 17:00:54 WIB

Setiap (kelompok) yang menyimpang dari Sunnah namun mendakwahkan dirinya menerapkan Sunnah, mesti akan takalluf (memaksakan diri) mencari-cari dalil untuk membenarkan tindakannya (penyimpangan) mereka. Karena, kalau hal itu tidak mereka lakukan, (perbuatan mereka) mengesampingkan Sunnah itu sendiri telah membantah dakwaan mereka. Setiap pelaku bid’ah dari kalangan umat Islam ini mengaku bahwa dirinya adalah pengikut Sunnah -berbeda dengan firqah-firqah lain yang menyelisihinya- hanya saja mereka belum sampai kepada derajat memahami tentang Sunnah secara utuh. Hal itu mungkin karena tidak dalamnya pemahaman mereka tentang perkataan bahasa arab dan kurang paham maksud-maksud yang dikandung Sunnah. Atau, mungkin juga karena tidak dalamnya pemahaman mereka dalam hal pengetahuan kaidah-kaidah ushul.

Wajib Mengenal Bid'ah Dan Meperingatkannya

Jumat, 28 Juli 2006 09:59:31 WIB

Tauhid tidak diketahui kecuali dengan menjauhi lawannya, yaitu syirik, dan iman tidak akan terealisasikan keculi dengan menjauhi lawannya, yaitu kufur, maka kebenaran tidak akan didapatkan kecuali dengan mencermati kesalahan. Dan yang sepenuhnya sama seperti itu adalah “Sunnah”. Maka pemahaman sunnah tidak akan jelas dan tanda-tandanya tidak akan terang kecuali dengan mengetahui lawan katanya, yaitu “Bid’ah”. Dan sesungguhnya yang demikian itu telah disyaratkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya. “ Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah Kitabullah (Al-Qur’an), dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan seburuk-buruk perkara adalah hal-hal yang baru, dan setiap yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah di dalam neraka”

Siapa Yang Membedakan Bentuk-Bentuk Bid'ah?

Kamis, 25 Mei 2006 15:21:45 WIB

Ketahuilah bahwa arti sunnah menurut bahasa adalah : “cara atau jalan”. Dan tidak diragukan bahwa orang-orang yang mengikuti cara dan jalan hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya adalah kelompok Ahlus Sunnah. Sebab pada masa itu belum terjadi bid’ah. Sesungguhnya terjadinya berbagai hal yang baru dan bentuk-bentuk bid’ah adalah setelah masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Atas dasar ini, maka tidak setiap orang yang membaca tulisan, mendengar ceramah atau mencermati suatu masalah dari beberapa buku dapat membedakan antara bid’ah dan yang bukan bid’ah dengan gampang dan mudah. Tetapi bagi orang yang ingin membedakan antara bid’ah dan yang bukan bid’ah harus mengerti dua hal. Pertama : Mengetahui sirah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnah-sunnahnya. Kedua : Mengetahui ilmu dasar-dasar bid’ah.

Apakah Tasbeh Bid'ah?

Senin, 5 Desember 2005 08:39:45 WIB

Karena itu, menggunakan tangan kanan untuk menghitung bilangan tasbih lebih utama daripada menggunakan tangan kiri, hal ini sebagai pelaksanaan mengikuti As-Sunnah dan lebih mendahulukan yang kanan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat senang mendahulukan yang kanan dalam mengenakan sandal, memulai langkah dan dalam bersuci serta hal-hal lainnya. Dengan demikian, bertasbih dengan menggunakan tasbeh tidak dianggap bid'ah dalam agama, karena yang dimaksud bid'ah yang terlarang itu adalah bid'ah dalam perkara agama, sedangkan bertasbih dengan menggunakan tasbeh hanyalah merupakan perantara untuk menghitung bilangan dengan tepat. Jadi hanya merupakan perantara yang marjuh. Namun demikian lebih utama menghitung bilangan tasbih dengan menggunakan jari tangan.

Hukum Menyiapkan Makanan Pada Tanggal Dua Puluh Tujuh Rajab, Nisyfu Sya'ban Dan Hari Asyura

Senin, 19 September 2005 07:28:09 WIB

Malam kedua puluh tujuh bulan Sya’ban dikira banyak orang sebagai malam di mana Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam di mi’rajkan oleh Allah. Ini semua tidak ada dasarnya menurut sejarah. Setiap yang tidak berdasar adalah bathil, dan semua yang didasarkan kepada kebathilan adalah bathil. Meski misalnya peristiwa itu terjadi pada malam dua puluh tujuh, maka tetap saja tidak boleh bagi kita untuk menjadikannya sebagai perayaan atau bentuk ibadah, karena hal itu tidak pernah ditetapkan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam maupun para sahabatnya, padahal mereka adalah manusia yang paling gemar mengikuti sunnahnya dan melaksanakan syari’atnya. Bagaimana mungkin diperbolehkan bagi kita untuk menetapkan apa yang tidak pernah ada pada zaman Nabi Shallallahu alaihi wa sallam maupun pada zaman sahabat ?



Kategori Bid'ah Dan Bahayanya

Hukum Merayakan Malam Isra' Mi'raj

Selasa, 23 Agustus 2005 07:46:07 WIB

Tentang kepastian terjadinya malam isra mi'raj ini tidak disebutkan dalam hadits-hadits shahih, tidak ada yang menyebutkan bahwa itu pada bulan Rajab dan tidak pula pada bulan lainnya. Semua yang memastikannya tidak benar berasal dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Demikian menurut para ahli ilmu. Allah mempunyai hikmah tertentu dengan menjadikan manusia lupa akan kepastian tanggal kejadiannya. Kendatipun kepastiannya diketahui, kaum muslimin tidak boleh mengkhususkannya dengan suatu ibadah dan tidak boleh merayakannya, karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya tidak pernah merayakannya dan tidak pernah mengkhususkannya. Jika perayaannya disyari'atkan, tentu Rasulullah telah menerangkannya kepada umat ini, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan.

Perayaan Hari Kelahiran Nabi [Maulid Nabi]

Rabu, 25 Mei 2005 07:14:12 WIB

Dipandang dari segi syari'at, perayaan itu tidak ada asalnya. Seandainya itu termasuk syari'at Allah, tentu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah melakukannya dan telah menyampaikan kepada umatnya, dan seandainya beliau melakukannya dan menyampaikannya, tentulah syari'at ini akan terpelihara, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman. "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya". Karena tidak demikian, maka diketahui bahwa perayaan itu bukan dari agama Allah, dan jika bukan dari agama Allah, maka tidak boleh kita beribadah dengannya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mendekatkan diri kepadaNya dengan itu.

Hubungan Bid'ah Dan Maslahat Mursalah

Selasa, 1 Maret 2005 18:49:31 WIB

Bid’ah mempunyai cirri khusus yaitu merupakan sesuatu yang dimaksud sejak awal oleh pelakunya. Mereka –biasanya- taqarrub kepada Allah dengan mengamalkan bid’ah itu dan mereka tidak berpaling darinya. Sangat jauh kemungkinan –bagi ahli bid’ah- untuk menghilangkan amalannya, karena mereka menganggap bid’ahnya itu menang di atas segala yang menentangnya. Sedangkan mashlahat musrshalah merupakan maksud yang kedua bukan yang pertama dan masuk dalam cakupan sarana pendukung (wasa’il), karena sebenarnya mashlahat murshalah ini disyariatkan sebagai sarana pendukung dalam merealisasikan tujuan syariat-syariat yang ada. Sebagai bukti hal itu, mashlahat murshalah bisa gugur bila berhadapan dengan mafsadah (kerusakan) yang lebih besar.

Sisi Perbedaan Antara Bid'ah Dengan Maksiat

Rabu, 1 Desember 2004 06:47:11 WIB

Sisi Perbedaan Antara Bid’ah Dengan Maksiat, diantaranya : Dasar larangan maksiat biasanya dalil-dalil yang khusus, baik teks wahyu (Al-Qur’an , As-Sunnah) atau ijma’ atau qiyas. Berbeda dengan bid’ah, bahwa dasar larangannya –biasanya dalil-dalil yang umum dan maqaashidusysyarii’ah serta cakupan sabda Rasulullah ‘Kullu bid’atin dhalaalah’ (setiap bida’ah itu sesat). Bid’ah itu menyamai hal-hal yang disyari’atkan, karena bid’ah itu disandarkan dan dinisbatkan kepada agama. Berbeda dengan maksiat, ia bertentangan dengan hal yang disyariatkan, karena maksiat itu berada di luar agama, serta tidak dinisbatkan padanya, kecuali jika maksiat ini dilakukan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah, maka terkumpullah dalam maksiat semacam ini, maksiat dan bid’ah dalam waktu yang sama.

Hubungan Antara Bid'ah Dengan Maksiat

Rabu, 1 Desember 2004 06:34:34 WIB

Kesamaan Bid’ah Dengan Maksiat : Keduanya sama-sama dilarang, tercela dalam syari’at, dan pelakunya mendapat dosa. Maka sesungguhnya bid’ah masuk di dalam kemaksiatan [lihat Al-Itisham 2/60]. Dengan tinjauan ini, setiap bid’ah adalah maksiat, tapi tidak setiap maksiat adalah bid’ah. Keduanya bertingkat-tingkart, bukan satu tingkatan saja, karena –menurut kesepakatan ulama- maksiat itu terbagi dalam kemaksiatan yang bisa membuat pelakunya kafir, dan kemaksiatan yang sifatnya kaba’ir (dosa-dosa besar) dan shagha’ir (dosa-dosa kecil) [lihat Al-Jawaabul Kaafi 145-150], begitu juga bid’ah terbagi menjadi beberapa tingkatan.

Bid'ah-Bid'ah Masjid Dan Ghuluw

Jumat, 22 Oktober 2004 08:10:58 WIB

Sesungguhnya memasukkan gambar kuburan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke dalam suatu masjid atau membuat tiruannya, adalah bid'ah dan mungkar. Mengunjungi dan berdiri di hadapan-nya merupakan bid'ah dan kemungkaran lainnya karena menggiring manusia untuk berlaku ghuluw (berlebihan) terhadap orang-orang shalih dan melampaui batas dalam mengagungkan para nabi dan rasul, sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang berlebih-lebihan dalam menjalankan agama, beliau bersabda. "Jauhilah oleh kalian ghuluw (berlebih-lebihan) dalam (menjalankan) agama, karena telah binasa orang-orang sebelum kalian yang disebabkan oleh berlebih-lebihannya mereka dalam (menjalankan) agama.". Lain dari itu, perbuatan ini tidak pernah dicontohkan oleh para sahabat dan tidak pula generasi setelah mereka pada abad-abad terbaik umat ini, padahal mereka bertempat tinggal di berbagai negeri dan jauh dari Madinah Al-Munawwarah



Kategori Bid'ah Dan Bahayanya

Hukum Menziarahi Kuburan Guru Tarekat Sufi Dan Mempersembahkan Kurban

Rabu, 20 Oktober 2004 15:37:06 WIB

Ini kemungkaran dan kejahatan besar, karena pergi untuk menziarahi kuburan adalah suatu kemungkaran, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, "Janganlah kalian mengusahakan perjalanan berat kecuali kepada tiga masjid; Masjidku ini (Masjid Nabawi), Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha." Lagi pula, mendekatkan diri kepada para penghuni kuburan dengan nadzar, sembelihan, shalawat, do'a dan memohon pertolongan kepada mereka, semua ini merupakan perbuatan syirik, mempersekutukan Allah. Seorang muslim tidak boleh berdoa kepada penghuni kuburan, walaupun penghuni kuburan itu seorang yang mulia seperti para rasul tidak boleh meminta pertolongan kepada mereka, seperti halnya tidak boleh meminta pertolongan kepada berhala, pepohonan dan bintang-bintang. Adapun permainan piring dan genderang yang mereka maksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , ini meru-pakan bid'ah yang mungkar.

Hukum Merayakan Hari Kelahiran Nabi Di Masjid

Selasa, 28 September 2004 07:40:52 WIB

Kaum muslimin tidak boleh menyelenggarakan perayaan hari kelahiran Nabi pada malam 12 Rabi'ul Awwal atau malam lainnya, dan tidak boleh juga menyelenggarakan perayaan hari kelahiran selain beliau Saw, karena perayaan hari kelahiran termasuk bid'ah dalam agama, sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah merayakan hari kelahirannya semasa hidupnya, padahal beliaulah yang mengajarkan agama ini dan menetapkan syari'at-syari'at dari Rabbnya , beliau juga tidak pernah memerintahkannya, Khulafa'ur Rasyidin dan para sahabat serta para tabi'in pun tidak pernah melakukannya. Maka dengan demikian diketahui bahwa perayaan itu merupakan bid'ah, sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, "Barangsiapa membuat sesuatu yang baru dalam urusan kami (dalam Islam) yang tidak terdapat (tuntunan) padanya, maka ia tertolak

Hubungan Antara Bid'ah Dengan Sunnah

Senin, 23 Agustus 2004 14:13:22 WIB

Ditinjau dari m makna lughawi Sunnah menurut bahasa berarti juga bid’ah, karena sunnah secara bahasa berarti ath-thariqah (jalan), apakah itu baik ataupun buruk. Oleh sebab itu setiap orang yang memulai suatu hal yang pada akhirnya dilakukan oleh banyak orang sesudahnya, maka hal itu disebut sunnah. [Lihat Al-Mishbah Al-Munir 292]. Jadi sunnah dan bid’ah dalam makna lughawi adalam sama. Di antara contoh penggunaan lafazh sunnah dalam makna lughawi adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “ Barangsiapa memberi contoh dalam Islam dengan contoh yang baik, maka dia akan mendapatkan pahala (seperti) pahala orang yang mengamalkannya sesudahnya, tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka. Dan barangsiapa memberi contoh yang jelek, maka dia akan menanggung dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya setelah dia, tanpa mengurangi sedikitpun dosa-dosa mereka”

Hubungan Antara Ibtida' Dengan Ihdaats

Kamis, 10 Juni 2004 09:56:01 WIB

Ibtida’ dan Ihdats dalam asal bahasa mempunyai kesamaan makna, yaitu mendatangkan sesuatu yang baru yang belum ada sebelumnya. Adapun dalam makna syar’i, maka ke-empat hadits yang lalu telah menunjukkan bahwa bid’ah itu menurut syari’at mempunyai dua nama, yaitu “bid’ah dan muhdatsat”. Hanya saja kata bid’ah banyak dipergunakan dan diungkapkan pada urusan (sesuatu) yang diada-adakan dan tercela dalam agama saja. Adapun kata muhdatsat banyak diungkapkan pada sesuatu yang diada-adakan lagi tercela, baik dalam masalah agama ataupun yang lainnya. Oleh sebab itu bisa diketahui, bahwa ihdats lebih umum dan lebih luas daripada ibtida’, karena kata ihdats mencakup segala sesuatu yang diada-adakan dan tercela, baik dalam urusan agama ataupun yang lainnya, maka semua perbuatan dosa dan maksiat masuk dalam pengertian ihdats.

Hukum Upacara Peringatan Malam Nisfi Sya'ban

Senin, 7 Juni 2004 16:12:08 WIB

Dalam kitab "Al Mukhtashar" Syaukani melanjutkan : Hadits yang menerangkan shalat Nisfu Sya'ban adalah batil. Ibnu Hibban meriwayatkan hadits dari Ali radhiallahu 'anhu: Jika datang malam Nisfu Sya'ban bershalat malamlah dan berpuasalah pada siang harinya, adalah dhaif. Dalam buku Allaali' diriwayatkan bahwa: Seratus rakaat dengan tulus ikhlas pada malam Nisfu Sya'ban adalah pahalanya sepuluh kali lipat. Hadits riwayat Ad Dailamiy, hadits ini maudhu' tetapi mayoritas perawinya pada jalan ketiga majhul dan dhaif (leman). Imam Syaukani berkata: Hadits yang menerangkan bahwa dua belas rakaat dengan tulus ikhlas pahalanya adalah tiga puluh kali lipat, maudhu'. Dan hadits empat belas rakaat ... dan seterusnya adalah maudhu'

Komparasi Makna Bid'ah Secara Lughawi Dan Syar'i

Kamis, 27 Mei 2004 08:44:55 WIB

Pengertian bid’ah dalam kacamata bahasa (lughah) lebih umum dibanding makna syar’inya. Antara dua makna ini ada keumuman dan kekhususan yang mutlak, karena setiap bid’ah syar’iyyah masuk dalam pengertian bid’ah lughawiyyah, namun tidak sebaliknya, karena sesungguhnya sebagian bid’ah lughawiyyah seperti penemuan atau pengada-adaan yang sifatnya materi tidak termasuk dalam pengertian bid’ah secara syari’at [Lihat Iqhtidlaush Shirathil Mustaqim 2/590]. Jika dikatakan bid’ah secara mutlak, maka itu adalah bid’ah yang dimaksud oleh hadits “Setiap bid’ah itu sesat”, dan bid’ah lughawiyyah tidak termasuk di dalamnya, oleh sebab itu sesungguhnya bid’ah syar’iyyah disifati dengan dlalalah (sesat) dan mardudah (ditolak).


Kategori Bid'ah Dan Bahayanya

Hal Yang Baru Ini Tidak Berlandaskan Syari'at, Baik Secara Khusus Maupun Umum

Jumat, 14 Mei 2004 07:43:04 WIB

Ibnu Hajar berkata: "Dan yang dimaksud sabda nabi "Setiap bid'ah itu adalah sesat", yaitu sesuatu yang diada-adakan, sedangkan dia tidak mempunyai dalil syar'i, baik dalil khusus maupun umum." Beliau juga berkata: "Dan hadits ini (yaitu hadits : Barangsiapa mengada-ada sesuatu dalam urusan agama kami ini yang padahal bukan termasuk bagian di dalamnya, maka di tertolak) termasuk kaidah yang utama dalam agama Islam, karena sesungguhnya orang yang mendatangkan sesuatu yang baru dalam agama ini, padahal tidak termasuk dalam salah satu pokok (ajaran Islam), maka dia akan tertolak." Definisi Bid'ah dalam Syari'at . Dari uraian di atas, maka kita bisa menentukan pengertian bid'ah secara syari'at, yaitu hal-hal yang memenuhi tiga batasan di atas.

Sesuatu Yang Baru Disandarkan Kepada Agama

Senin, 3 Mei 2004 08:04:21 WIB

Al-Ihdats (Mengada-ada) Sesuatu yang Baru : Dalil syarat ini adalah sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam "Barang siapa mengada-ada (sesuatu yang baru)." Dan sabdanya: "Dan setiap yang diada-adakan itu adalah bid'ah." Jadi yang dimaksud al-ihdaats adalah mendatangkan sesuatu yang baru, dibuat-buat, dan tidak ada contoh sebelumnya. Maka masuk di dalamnya: segala sesuatu yang diada-adakan, baik yang tercela maupun yang terpuji, baik dalam agama atau bukan. Dan dengan batasan ini maka yang tidak diada-adakan tidak dapat disebut bid'ah misalnya melaksanakan semua syi'ar agama seperti shalat fardlu, puasa ramadlan, dan melakukan hal-hal yang sifatnya duniawi seperti makan, pakaian dan lain-lain.

Pengertian Bid'ah Menurut Syari'at

Rabu, 21 April 2004 08:18:30 WIB

Hadits Jabir bin Abdullah, bahwa Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam pernah berkata dalam khuthbahnya : Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah dan sebagus-bagusnya tuntunan adalah tuntunan Muhammad dan urusan yang paling jelek adalah sesuatu yang diada-adakan (dalam agama) dan setiap yang diada-adakan (dalam agama) itu adalah bid'ah dan setiap bid'ah itu sesat dan setap kesesatan itu (tempatnya) di neraka.". Dan jika telah jelas dengan kedua hadits ini, bahwa bid'ah itu adalah al-mubdatsah (sesuatu yang diada-adakan dalam agama), maka hal ini menuntut (kita) untuk meneliti makna ibda' (mengada-adakan dalam agama) di dalam sunnah.

Pengertian Bid'ah Dalam Segi Bahasa

Rabu, 14 April 2004 07:32:19 WIB

Berarti sesuatu yang diciptakan (diadakan) tanpa ada contoh sebelumnya. Makna ini sebagaimana dalam firman Allah.“Katakanlah, “Aku bukanlah rasul pertama diantara para rasul” . Makna ini juga terdapat dalam perkataan Umar Radhiyallahu ‘anhu. “Sebaik-baiknya bid’ah” . Juga dalam perkataan para imam lainnya seperti Imam Syafi’i, “Bid’ah itu ada dua, bid’ah yang baik dan bid’ah yang tercela, jika sesuai sunnah, maka itu yang baik, tapi kalau bertentangan dengannya, maka itulah yang tercela”. Ibnu Rajab berkata, “Adapun yang terdapat dalam perkataan ulama salaf yang menganggap baik sebagian bid’ah adalah bid’ah dalam pengertian bahasa. Bukan bid’ah dalam pengertian syari’at.

Beberapa Contoh Bid'ah Masa Kini : Ibadah Dan Taqarrub Kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Minggu, 28 Maret 2004 07:29:16 WIB

Bid’ah-bid’ah yang berkaitan dengan ibadah, pada saat ini cukup banyak. Pada dasarnya ibadah itu bersifat tauqif (terbatas pada ada dan tidak adanya dalil), oleh karenanya tidak ada sesuatu yang disyariatkan dalam hal ibadah kecuali dengan dalil. Sesuatu yang tidak ada dalilnya termasuk kategori bid’ah, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Barangsiapa mengerjakan amalan yang tidak ada padanya perintah kami maka dia tertolak”. Ibadah-ibadah yang banyak dipraktekkan pada masa sekarang ini, sungguh banyak sekali, di antaranya ; Mengeraskan niat ketika shalat. Misalnya dengan membaca dengan suara keras. “Aku berniat untuk shalat ini dan itu karena Allah Ta’ala”.

Beberapa Contoh Bid'ah Masa Kini : Perayaan Bertepatan Dengan Kelahiran Nabi Pada Bulan Rabiul Awwal

Kamis, 25 Maret 2004 22:45:41 WIB

Bid’ah-bid’ah modern banyak sekali macamnya, seiring dengan berlalunya zaman, sedikitnya ilmu, banyaknya para penyeru (da’i) yang mengajak kepada bid’ah dan penyimpangan, dan merebaknya tasyabuh (meniru) orang-orang kafir, baik dalam masalah adat kebiasaan maupun ritual agama mereka. Hal ini menunjukkan kebenaran (fakta) sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. “Sungguh kalian akan mengikuti cara-cara kaum sebelum kalian”, contohnya adalah : Merayakan kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bid’ah, karena perayaan tersebut tidak ada dasarnya dalam Kitab dan Sunnah, juga dalam perbuatan Salaf Shalih dan pada generasi-generasi pilihan terdahulu. Perayaan maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam baru terjadi setelah abad ke empat Hijriyah.


Kategori Bid'ah Dan Bahayanya

Sikap Terhadap Pelaku Bid'ah Dan Manhaj Ahlus Sunnah Dalam Menyanggah Pelaku Bid'ah

Jumat, 19 Maret 2004 08:59:53 WIB

Manhaj mereka dalam hal ini didasarkan pada Kitab dan Sunnah. Manhaj yang mantap dan tidak terbantah, di mana pertama kali mereka mengungkapkan syubhat-syubhat para pelaku bid’ah kemudian membantahnya (satu persatu). Dan dengan berdasarkan pada Kitab dan Sunnah, mereka mengungkapkan kewajiban berpegang teguh terhadap ajaran-ajaran syariat dan kewajiban meninggalkan berbagai macam bid’ah serta hal-hal yang diadakan. Ulama Ahlus Sunnah telah mengeluarkan banyak karya dalam hal ini. Dan di dalam buku-buku aqidah, mereka juga membantah para pelaku bid’ah yang berkaitan dengan iman dan aqidah. Bahkan, ada yang menulis karya-karya khusus untuk hal tersebut.

Latar Belakang Munculnya Bid'ah

Kamis, 11 Maret 2004 15:58:31 WIB

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan hal itu dalam suatu hadits yang diriwayatkan sahabat Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'anhu, berkata : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membuat satu garis untuk kita, lalu bersabda : "Ini adalah jalan Allah", kemudian beliau membuat garis-garis di sebelah kanannya dan disebelah kirinya, lalu bersabda : "Dan ini adalah beberapa jalan di atas setiap jalan tersebut ada syetan yang senantiasa mengajak (manusia) kepada jalan tersebut". Maka barangsiapa yang berpaling dari Al-Kitab dan As-Sunnah ; pasti akan selalu terbentur oleh jalan-jalan yang sesat dan bid'ah. Jadi latar belakang yang menyebabkan kepada munculnya bid'ah-bid'ah, secara ringkas adalah sebagai berikut : bodoh terhadap hukum-hukum Ad-Dien, mengikuti hawa nafsu.

Pengertian Bid'ah, Macam-Macam Bid'ah Dan Hukum-Hukumnya

Rabu, 10 Maret 2004 16:49:28 WIB

Perbuatan bid'ah dalam adat istiadat (kebiasaan) ; seperti adanya penemuan-penemuan baru dibidang IPTEK (juga termasuk didalamnya penyingkapan-penyingkapan ilmu dengan berbagai macam-macamnya). Ini adalah mubah (diperbolehkan) ; karena asal dari semua adat istiadat (kebiasaan) adalah mubah. Perbuatan bid'ah di dalam Ad-Dien (Islam) hukumnya haram, karena yang ada dalam dien itu adalah tauqifi (tidak bisa dirubah-rubah) ; Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Artinya : Barangsiapa yang mengadakan hal yang baru (berbuat yang baru) di dalam urusan kami ini yang bukan dari urusan tersebut, maka perbuatannya di tolak (tidak diterima)". Dan di dalam riwayat lain disebutkan : "Artinya : Barangsiapa yang berbuat suatu amalan yang bukan didasarkan urusan kami, maka perbuatannya di tolak.

Kriteria Bid'ah

Senin, 23 Februari 2004 15:00:14 WIB

Pengertian bid'ah secara syar'i intinya adalah beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang tidak disyari'atkan Allah. Bisa juga anda mengatakan bahwa bid'ah adalah beribadah kepada Allah dengan sesuatu yang tidak ditunjukkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak pula oleh para Khulafaur Rasyidin. Definisi pertama disimpulkan dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala "Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari' atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah". Sedangkan definisi kedua disimpulkan dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. "Hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa 'ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah-sunnah itu dengan geraham, dan hendaklah kalian menjauhi perkara-perkara baru yang diada-adakan"

Apakah Bid'ah Hanya Berlaku Pada Bidang Ibadah, Hakikat Bid'ah

Sabtu, 21 Februari 2004 12:56:07 WIB

Bid'ah adalah sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. "Hendaklah kalian menjauhi perkara-perkara baru yang diada-adakan, karena setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid 'ah, setiap bid 'ah itu sesat, dan setiap yang sesat itu (tempatnya) di neraka". Dengan demikian, semua bid'ah, baik yang permulaan maupun yang berkesinambungan, pelakunya berdosa, karena sebagaimana dikatakan Rasulullah dalam hadits tadi, "(tempatnya) di neraka" Maksudnya, bahwa kesesatan itu menjadi penyebab untuk diadzab di dalam neraka. Karena Rasulullan telah memperingatkan umatnya terhadap bid'ah, maka dapat dipahami bahwa hal itu benar-benar perusak, karena Rasulullah menyebutnya secara global dan tidak menyebut secara khusus, sebagaimana dalam sabda beliau tadi, "Setiap bid'ah adalah sesat."



1.21.2012

YA Rasulullah.......................


Ya Rasulullah, apa yang harus dilakukan para pemimpin ?
"Membela yang lemah dan membantu yang miskin" jawab Nabi.

Ya Rasulullah, apa yang harus dilakukan ulama ?
Memberi contoh yang baik dan mendukung pemimpin
YAng membela orang - arang lemah" jawabnya

Ya Rasulullah ... apa yang harus dilakukan orang-orang lemah dan miskin ?
"Bersabarlah, dan tetplah bersabar
Jangan kau lihat pemimpinmu yang suka harta

Jangan kau ikuti ulamamu yang mendekati mereka
Jangan kau temani orang-orang yang menjilat mereka
Jangan kau lepaskan pandanganmu dari para pemimpin dan ulama yang hidupnya juhud dari harta"

Ya RAsulullah... Pemimpin seperti itu sudah tidak ada
Ulama seperti itu sudah menghilang entah kemana
Yang tersisa adalah pemimpin serakah
Yang tertinggal adalah ulama-ulama yang tama'
Banyak rakyat yang mengikuti keserakahan mereka
Ummat banyak yang meneladani ketamakan mereka !
Apa yang harus aku lakukan, Ya... RAsulullah !
Siapa yang harus aku angkat jadi pemimpin ?
Siapa yang harus aku ikuti fatwa-fatwanya ?
Siapa yang harus aku jadikan teman setia ?

"Wahai ummatku...
Tinggalkan mereka semua
Dunia tidak akan bertambah baik sebab mereka
Bertemanlah dengan anak dan istrimu saja
Karena Allah menganjurkan, "Wa 'asiruhunna bil ma'ruf"
Ikutilah fatwa hatimu
Karena hadits mengatakan, "Istafti qalbaka, wa in aftaukan nas waftauka waftauka"
Dan angkatlah dirimu menjadi pemimpin
Bukankah, "Kullulkum Ra'in, ea kullukum masulun 'an ra'iyyatihi ?" 

SEMOGA KITA SELALU ISTIQOMAH AKHI.............................AMIN...