Segala
puji tak berujung hanya milik Allah swt, yang Maha mengatur segala
mahlukNya lagi Maha menjamin rezki semua mahluk, Raja diatas segala
raja. Siapa yang Allah swt tolong maka siapakah yang dapat
menyesatkannya dan siapa yang Allah swt sesatkan maka siapakah yang
dapat menolongnya.
Shalawat dan salam senantiasa kita
curahkan kepada junjungan kita Baginda Rasulullah SAW, ahli keluarga
beliau, para sahabat dan ummatnya yang senantiasa teguh menjalankan
sunnah-sunnah beliau hingga hari kiamat.
Saudaraku seiman,
tidak perlu dijleskan secara mendetail bagaimana posisi atau kedudukan
sholat dalam Islam karena secara umum kita semua kurang lebih sudah
paham bahwa sholat adalah tiangnya Agama, siapa yang mengerjakan maka ia
menegakkan Agama, begitupula bagi mereka yang meninggalkannya maka
dialah orang-orang yang bertanggungjawab atas runtuhnya Agama.

Sholat
adalah media bagi kita yang ingin berbincang-bincang, berkeluh kesah,
mengadukan permasalahan hidup, amalan dimana seorang hamba secara utuh
bersyukur akan segala nikmat yang Dia berikan dan dengan shalat inilah
Allah SWT akan memberikan rahmatNya kepada penghuni neraka, Allah SWT
akan memerintahkan kepada malaikatNya untuk mengeluarkan dari neraka
bagi orang-orang yang ada bekas sujudnya.
Dalam suatu dialog yang panjang antara Nabi SAW dengan sahabatnya, Rasulullah SAW bersabda :
"...Apabila
Allah SWT ingin memberi rahmat kepada seseorang dari penghuni neraka
yang dikehendakiNya, maka Allah memerintahkan para malaikat untuk
mengeluarkan orang yang pernah menyembah Allah, lalu para malaikat
mengeluarkan mereka dan para malaikat dapat mengenal mereka dengan bekas
sujud. Dan Allah telah mengharamkan api neraka memakan bekas sujud.
Kemudian mereka keluar dari api...dan dialah penghuni neraka yang
terakhir kali masuk surga".
(H.R Imam Bukhari, kitabul adzan, no : 806, Imam Muslim, kitabul iyman, no : 182).
Terlepas dari itu semua, timbullah pertanyaan
"Apakah
sholat yang kita kerjakan benar-benar sudah sesuai dengan apa yang
Allah minta dan juga dicontohkan oleh baginda Rasulullah Muhammad?"
Hari
ini banyak sekali kita temui seorang Imam dalam sholat yang mengerjakan
sholat tapi terlihat seolah-olah melakukan gerakan senam kebugaran
(ruku' dan sujud yang terlalu cepat)..walaupun
terlepas dari salah satu kelebihan bahwasanya seseorang yang
mengerjakan sholat akan mendapatkan kesehatan dari gerakan-gerakan yang
terkandung didalamnya.
Sangat jarang dari
ummat Islam sendiri yang mencari tahu bagaimanakah sebenarnya
kesempurnaan/banyaknya bacaan dzikir yang kita baca pada saat ruku' dan
sujud dalam sholat. Kita merasa cukup akan ilmu yang diajarkan (atau
mungkin lebih tepatnya didoktrin) sewaktu kita masih kecil melalui buku
kecil "Panduan Lengkap Sholat" yang asal usulnya entah dari mana.
Dalam kitab
"Al-Futuhat Al Rabbaniyah" pada
bab Adzkarir Rukui menjelaskan juga sebagaimana dalam kitab Nailul
Authar bahwa bacaan ruku dan sujud dengan hanya tiga kali tasbih
(Subhana Rabbiyal Adhim dan Subhana Rabbiyal a'la tiga kali), sanadnya
tidak bersambung
(isnaduhu laisa bimuttashil). demikian juga dalam kitab
Subulussalam bab sifat shalat bagian ke-27.
Abu Daud meriwayatkan Hadits Ibnu Mas'ud bahwa Nabi SAW bersabda:
"Apabila ruku seseorang diantara kamu, maka bacalah tiga kali subhana
rabbiyal adhim dan itu paling sedikit"
Hadits tersebut
diriwayatkan juga oleh Imam Tarmidzy dan Ibnu Majah, hanya saja Abu Daud
mengatakan hadits itu mursal. Demikian juga menurut Imam Bukhari dan
At-Tarmidzy.
Dijelaskan juga dalam kitab
"Nailul Authar pada Babuz Zikri Firrukui Wassujudi" bahwa
bacaan ruku' dan sujud dengan tiga kali tasbih, diterima dari Aum bin
Abdullah bin Utbah, yang diterima dari Ibnu Masud dan keduanya tidak
ketemu (hadits mursal)
HADITS MURSAL TIDAK DAPAT DIJADIKAN DALIL DALAM URUSAN IBADAH.
Ada
yang menilai shahih dengan hanya tiga kali tasbih, yaitu Muhammad
Nashiruddin Al-Albani dalam kitab sifat shalat Nabi SAW namun beliau
sendiri juga yang mendhaifkan pada kitabnya yang lain yaitu "Ashlu
Shifati Shalatain Nabiy SAW" pada penjelasan tentang dzikir-dzikir
ketika ruku.
(Terjemahan Ashlu Shifati Shalatain Nabiy SAW jilid 2, halaman 312-321).
Bacaan
tiga kali tasbih itu juga bertentangan dengan sejumlah ayat dalam
Al-Qur'an dan Hadits Rasulullah SAW yang memerintahkan agar memantapkan
ruku dan sujud serta memperbanyak dzikir.
"Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya".
(Q.S. Al-Ahzab (33) : 41)..
(Q.S. Ar-Ra'd (13) : 27-28)..
(Q.S Al-Hijr (15) : 98-99)..
(Q.S Asy-Syu'ara (26) : 217-219)
"Muhammad
itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah
keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu
lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya,
tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud". (Q.S Al-Fath (48) : 29)
Selain
bacaan 3x tasbih yang derajat Haditsnya Mursal, jika diamalkan maka
sholat akan kehilangan "Esensi"nya, malah terlihat seakan-akan seorang
hamba yang malas bertemu dengan Allah dan ingin cepat-cepat
menyelesaikan sholatnya, olehnya Allah menolak ibadah yang dilakukan
dengan malas dan tidak disertai keikhlasan.
mereka tidak mengerjakan sholat, melainkan dengan malas (Q.S At-taubah (9) : 54)
Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas (Q.S An-Nisa (4) : 142)
Adapun
do'a yang banyak dibaca Rasulullah SAW dalam ruku' dan sujudnya, maka
Aisyah r.anhu berkata : "Adalah Rasulullah memperbanyak bacaan
subhanaka allahumma rabbana wabihamdika allahummagfirly didalam ruku' dan sujud untuk memenuhi perintah Al-Qur'an (perintah Allah).
(HR. Imam Muslim, kitabush shalah, no : 484).
"Sedekat-dekat
seorang hamba kepada Tuhannya yaitu ketika ia sujud, maka perbanyaklah
berdo'a di dalam sujud". (HR. Imam Muslim, kitabush shalah, no : 482).
Setelah kita membaca Ayat/Hadits disebutkan, maka timbul pertanyaan
“Berapakah sebenarnya jumlah bacaan yang seharusnya?” .. Mengenai jumlahnya, berapa kali seharusnya, memang tidak ada keterangan namun Hudzaifah r.a menjelaskan bahwa :
"..lama
waktu ruku'...dan sujud, hampir sama dengan berdirinya. (HR. Imam
Muslim, kitab shalatil musafiriyna wa qashriha, no : 772).
Al-Bara' bin Azib r.a mengatakan :
"Aku
pernah memperhatikan shalat Muhammad SAW aku dapati ternyata waktu
berdiri, ruku', I'tidal setelah ruku', sujud awal, duduk diantara dua
sujud, sujud kedua dan waktu duduk antara salam dan bangkit (setelah
shalat usai) TERNYATA HAMPIR SAMA LAMANYA. (HR. Imam Muslim, kitabush
shalah, no : 471).
Jika pada
saat berdiri dalam shalat hanya membaca surah al-fatihah, Insya Allah
sudah seimbang jika membaca :"Subhanaka Allahumma Rabbana Wabihamdika
Allahummagfirly” hingga lima atau enam kali.
Tapi belum ditambah
dengan bacaan surah pendek pada saat berdiri setelah membaca surah
Al-Fatihah, sehingga ada kemungkianan waktu berdiri lebih lama, maka
do'a/dzikir pada saat ruku’ dan sujud bisa lebih banyak. Tapi tentu saja
dengan tetap memperhitungkan atau menyesuaian dengan kemampuan Makmum.
Hal
ini sebagaimana yang telah diingatkan oleh Rasulullah SAW kepada
sahabatnya yaitu Mu'adz yang membaca surah Al-Baqarah pada saat
mengimami kaumnya untuk shalat isya. Rasulullah SAW mengingatkan dengan
memerintahkan agar membaca surah-surah pendek. Cukup membaca...
"Wasysyamsi waduhaha, wadh dhuha wal laili idza yagsya dan sabbihisma
rabbikal a'la...
(HR. Imam Muslim, kitabush shalat, no : 178).
Walaupun
harus menyesuaikan dengan kemampuan jama'ah, tentunya kita harus tetap
berpedoman pada tata cara yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW
mengenai lama ruku’ dan sujud yang disesuaikan dengan lama berdiri.
"Dari
Tsabit bin Al Bunani meriwayatkan dari Anas bin Malik r.a dia berkata :
"Sesungguhnya aku tidak akan mengurangi lamanya (shalat ketika)
mengimami kalian sebagaimana ketika Rasulullah mengimami kami". (HR.
Imam Muslim, kitabush shalat, no : 472).
Jika
dalam ruku' membaca : "Subhana Rabbiyal Adhim" dan dalam sujud membaca
"Subhana Rabbiyal a'la, hendaknya dibaca sekitar sepuluh kali
sebagaimana yang dijelaskan oleh Anas bin Malik r.a
Anas
r.a berkata : "Aku tidak pernah shalat dibelakang salah seorang sesudah
Rasulullah SAW yang shalatnya itu sangat menyerupai shalat Rasulullah
SAW selain dari seorang anak muda ini, yaitu : "Umar bin Abdul Azis, ia
(Anas) berkata, kami taksir dalam ruku'nya itu ia mengucapkan sepuluh
kali tasbih. (Baca kitab Nailul Authar juz 11, hadits no : 738).
Seseorang
yang melaksanakan sholat tapi tidak sempurna ruku’ dan sujudnya sangat
perlu untuk berhati-hati, sebagaimana seseorang yang telah ditegur oleh
sahabat Hudzaifah r.a..
Dari Hudzaifah r.a sesungguhnya dia pernah
melihat seorang laki-laki yang tidak sempurna ruku' dan sujudnya, maka
setelah orang itu menyelesaikan shalatnya, Hudzaifah memanggilnya lalu
berkata kepadanya, engaku belum sholat dan
seandainya engkau mati, engkau mati dengan tidak mengikuti sunnah Muhammad SAW (HR. Imam Bukhari, kitabush shalat, no : 389).
Bagi yang tidak mengikuti sunnah Rasulull SAW, Allah SWT mengingatkan :
"...maka
hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul, takut akan ditimpa
fitnah atau ditimpa siksa yang pedih. ketahuilah sesungguhnya kepunyaan
Allah-lah apa yang dilangit dan di bumi. (Q.S An-Nur (24) : 63).
(Q.S Al-Qalam (68) : 42-43)..
(Q.S Al-Ma'un (107) : 4-5)..
(Q.S Al-Hijr (15) : 92-93).
Ya
Allah, lepaskanlah diriku dari tanggung jawab ilmu yang Engkau
titipkan, karena saya telah berusaha menyampaikannya, terlepas dari
Kuasa Engkau ingin memberikan Hidayah/Pemahaman kepada mereka yang saya
sampaikan, itu semua adalah kehendakMu.
Tidak ada
maksud kami selaku admin untuk mengajari siapapun yang terTag dalam
artikel yang dibuat ini, karena kami tau dan sadar ilmu kami masih jauh
bahkan sangat sedikit dibandingkan ilmu tuan-tuan..Olehnya Mohon maaf
jika terdapat banyak kekurangan pada artikel ini karena ada benarnya
datangnya dari Allah dan adapun kesalahan yang terdapat pada artikel ini
datangnya dari kebodohan dan kekurangan dari ilmu kami pribadi, namun
kami sangat berharap ditegur atau dikoreksi jika ada kekeliruan, tentu
saja dengan melampirkan Ayat/Hadits yang kuat sebagai bantahan.
..Subhanallah wabihamdi AsyaduAllahilaha Illallah Anta Astagfiruka wa'atubu Ilaik Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..